Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Pangeran Sake, Peletak Pertama Tatanan Masyarakat Citeureup

Written By Abu Rifki on Jumat, 25 Oktober 2013 | 16.37


Kalau kita perhatikan dari sisi bahasa sehari-hari, citeureup berbeda dengan kecamatan disekitarnya, sebut saja cibinong atau gunung putri yang berdekatan, bahasa penduduk asli citeureup adalah bahasa sunda, berbeda dengan cibinong atau gunung putri yang berbahasa melayu (indonesia), lebih dalam lagi bahasa sunda yang digunakan cenderung sedikit kasar lebih
menyerupai bahasa banten, ya dapat dikatakan demikian karena memang orang pertama yang membuka wilayah citeureup adalah putra Banten. Raden Sake atau Pangeran Syarifudin Shoheh diduga adalah Sohibul Wilayah Citeureup.

2. Silsilah Pangeran Sake

Raden Sake Putra dari Sultan Ageng Tirtayasa itu memiliki beberapa saudara diantaranya Pangeran Sogiri, Maulana Mansyurudin (Cikadueun,Banten) dan Sultan Haji.

2.a. Silsilah Pangeran Sake

1. Syeh Syarif Hidayatullah Gunung Jati (1450-1569) Berputra :
2. Sultan Maulana Hasanudin / Panembahan Surosowan (1552-1570) Berputra :
3. Sultan Maulana Yusuf (1570-1580)Berputra :
4. Sultan Maulana Muhamad (1580-1596)Berputra :
5. Sultan Abdul Mafahir Mahmud Abdul Kadir Kenari (1596-1651)Berputra :
6. Sultan Abul Maali Ahmad Berputra :
7. Sultan Abdul Fathi Abdul Fatta / Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1683)Berputra :
8. Syeh Syarifudin Shoheh / Pangeran Sake (1682-1740)

Dari berbagai sumber

Mayor Jantje

Written By Abu Rifki on Jumat, 04 Januari 2013 | 03.09

Mayor Jantje, seorang Mardijker ( sebutan bekas budak belian/para tawanan yang umumnya berasal dari Asia Selatan (Benggala) yang telah dibebaskan setelah bersedia pindah agama dari Katholik ke Protestan. Mardijker bisa dipadankan dengan istilah “orang-orang yang merdeka”.) yang bernama asli Augustijn Michiels (1769-1833). banyak orang yang belum mengenalnya, padahal dalam sejarah Batavia, dialah tokoh dari abad 19 yang sangat terkenal. Orang menjulukinya “de rijkste grondeigenaar van Java” atau pemilik tanah terkaya di Jawa. Beberapa tanah luas berada di bawah kepemilikannya seperti: Tjitrap (Citeureup), Cileungsi, Cimapag, Cipamingkis, Cibarusa, Tanah Baru, Sukaraja, Nanggewer dan terutama Klapa Nunggal dengan sarang burung waletnya sebagai sumber kekayaan yang terus mengalir tiada henti. Julukan Mayor diberikan kepadanya setelah ia mengakhiri karier militer selama 20 tahun, memimpin sebuah pasukan kaum Papang (merujuk nama suku Papango di Luzon, Philipina) bentukan pemerintah kolonial.
Augustijn Michiels menerima warisan Klapa Nunggal dari ayahnya Jonathan Michielsz, cucu dari seorang budak yang telah dibebaskan bernama Titus van Benggala yang akhirnya berubah nama menjadi Titus Michielsz setelah berpindah agama. Nama Michielsz belakangan menjadi klan yang terkenal di kalangan kaum Mardijker dan mencapai kegemilangan pada masa Augustijn Michiels—yang dengan sengaja menghilangkan huruf z di belakang namanya—alias sang Mayor Jantje kita ini.
simbol klan ini berupa perisai bergambar burung walet membawa ranting lambang perdamaian dan di depannya sebuah bintang besar lambang keberuntungan dan kejayaan. Di atasnya sebuah pohon rindang dengan akar-akar yang kuat menancap berserta seekor walet yang tengah membangun sarang. Sebelah bawah berupa gambar karang-karang terjal, mungkin menggambarkan karang di Klapa Nunggal. Sepertinya simbol-simbol itu bermaksud menggambarkan status sosial serta sumber kemakmuran yang mereka peroleh. Simbol ini dapat kita temui juga pada batu nisan Jonathan Michielsz yang tersimpan di Museum Prasasti Jakarta bernomor 13.
Fakta yang cukup mengherankan, kenapa orang terkaya pada waktu itu bukan berasal dari kalangan Belanda/Eropa yang jelas-jelas mendapat kemudahan akses meraih segalanya. Malahan berasal dari keturunan budak yang telah dibebaskan. Dengan kekayaannya seharusnya Mayor Jantje bisa saja dengan mudah membeli rumah di daerah elite sekitar Weltevreden, tapi ia justru memilih tinggal di sebuah tempat bernama Semper Idem, di lingkungan komunitas Mardijker lainnya di daerah Jacatra—Jalan Pangeran Jayakarta sekarang—dekat dengan Gereja Portugis (Gereja Sion). Meskipun begitu rumah besar bercat putih berlantai dua ini lebih sering kosong karena Mayor Jantje lebih betah berlama-lama di vilanya di Citrap (Citeureup) yang berjarak 22 Pal (sekitar 33 Km) dari Batavia.
(Sumber : Buku berjudul Mayor Jantje: Cerita Tuan Tanah Batavia Abad Ke-19 hasil tulisan Johan Fabricius. Naskah aselinya berbahasa Belanda berjudul De Zwaluwen van Klapanoenggal atau Burung-burung Walet Klapanoenggal dalam Bahasa Indonesia)

Wisma Tjitrap

Written By Abu Rifki on Jumat, 25 Maret 2011 | 17.01



Mayor Jantje, merupakan salah satu Tentara Papango dalam satuan tentara Kompeni / VOC Hindia Belanda. Kesatuan tentara lain yang mengabdi pada Penjajah Belanda adalah Moro yang merupakan orang-orang India-Bengala, Kesatuan Tentara Jawa dan Kesatuan Tentara Ambon,disamping Kesatuan Tentara asli Belanda.


Sedang Kesatuan Papango atau disebut juga orang-orang Mardijkers adalah orang pribumi Filipina yang sudah direkrut di zaman penjajah Spanyol di Filipina,lalu sebagian direkrut penjajah Portugis di Indonesia dan Malaka,Malaysia dan dibaptis menjadi orang Kristen Katolik dan diberi nama Portugis.

Mereka kebanyakan berdiam di wilayah Tugu dan Semper yang merupakan pinggiran Jakarta dan masih rawa-rawa waktu itu.Tentara Papango yang terkenal disiplin dan ganas ini setelah Portugis pergi,lalu direkrut oleh penjajah Belanda,dan setelah Belanda pergi dari Indonesia,mereka mengaku keturunan Portugis dan hingga kini terkenal dengan kesenian Keroncong Tugu.Mayor Jantje adalah salah satu tentara Papango yang bernasib mujur karena mewarisi tanah-tanah yang sangat luas dari ayahnya.

Tanah-tanah luas itu pada mulanya milik Raden Saki, Pangeran ningrat putra Sultan Ageng Banten. ia menjual tanah-tanah itu kepada VOC dengan harga relatif murah.

 VOC yang korup menjual kembali tanah itu kepada seorang tuan tanah Belanda,Baron Hohendorff dengan harga agak menguntungkan. Ahli waris Baron tersebut lalu menjual tanah tersebut dengan harga murah kepada Agustijn Michiels,tentara Mardijkers/Papango yang mempunyai jiwa bisnis.

Sebetulnya,Mayor Jantje sudah mewarisi tanah Cileungsi dan Klapanunggal dari ayahnya, Jonathan Michiels,seorang letnan dalam kesatuan tentara Mardijkers/Papango. Tanah itu terlantar, padahal penuh sarang burung walet.

Setelah diwariskan kepada Mayor Jantjelah,maka tanah-tanah itu dibisniskan,baik dikeduk sarang waletnya,maupun disub-kontrakkan kepada pengusaha perkebunan Cina. Setelah kaya,uangnya terus dikembangkan dengan membeli tanah-tanah lain sekitarnya,seperti disebut di atas.

Dan baru setelah kayaraya, maka ia membangun kembali Istana Citeureup yang merupakan warisan dari Raden Saki. Istana itu diperbesar dan diperindah,dengan taman-taman dan danau yang indah,apalagi memang kontur tanah sekitar Bogor sangat hijau indah berlembah dan berbukit,dengan sungai-sungai yang jernih,bagai puisi Ajip Rosidi “Priangan si Jelita”,yang antara lain menyebutkan bahwa Tuhan sedang tersenyum bahagia ketika menciptakan tanah Priangan.

Johan Fabricius cukup piawai menggambarkan suasana Citrap masa lalu. Lewat tulisannya, kita bisa membayangkan lanskap sebuah daerah perkebunan jauh di pelosok Batavia arah ke selatan dengan bukit dan lembah menghijau karena rimbunnya pepohonan. Sungai Citrap di dekat vila yang meliuk-liuk dengan airnya yang jernih mengalir, tempat Mayor Jantje dan tamu-tamunya sekali-kali mandi dan berenang. Jauh di ufuk terlihat bukit Hambalang dengan latar belakang gunung Gede dan gunung-gunung lainnya yang membiru. Tak terbayangkan sebuah tempat seindah itu beberapa ratus tahun kemudian berubah menjadi kawasan industri yang gersang dan panas, di mana daun-daunnya pun telah teselimuti debu industri.

Sesekali waktu Sang Mayor pun turun ke bawah alias berkeliling kampung-kampung yang berada di kawasan tanah yang ia sewakan. Selain untuk tujuan inspeksi, ia juga sering diundang ke hajatan pernikahan. Sebuah fakta yang cukup mengagetkan, bahwa sebagai tuan tanah ia berhak menikmati malam pertama atas sang mempelai perempuan! Sebuah kebiasaan masa lalu yang aneh.          
Sepanjang jalan yang dilewati selalu dipenuhi oleh orang-orang kampung, terutama anak kecil yang menunggu Sang mayor membagi-bagikan uang logam kepada mereka. Dan Sang Mayor pun amat menikmati pemandangan ketika tangan-tangan kecil itu berebutan koin-koin yang ia sebarkan dari atas pelana kuda.


Jika,kita melihat foto-foto wisma tjitrap,kita bisa membayangkan,bahwa Istana Citeureup tidak kalah dari Istana Bogor yang milik resmi pemerintah Hindia-Belanda saat itu,dan kini menjadi salah satu Istana Negara Indonesia.
Istana Citerep menjadi terkenal,karena Agustin Michiels yang murah hati dan dermawan,membuka lebar-lebar istananya bagi siapapun,terutama para pejabat Hindia-Belanda,dan menyelenggarakan pesta 24 jam hampir sepanjang masa hidupnya,terutama di hari-hari akhir pekan.

Kehidupan bak opera 1001 malam itu tidak berkeputusan di Istana Citrap,semua tamu gratis makan,minum,pesiar,berjalan-jalan naik kereta kuda,mandi di sungai jernih,atau bermain kartu. Mereka dihibur oleh 3 korps musik milik Mayor Jantje yang bermain bergantian,pagi,siang dan malam.

Kebutuhan beras saja adalah 3280 gantang beras dalam sebulan untuk kehidupan di Istana Citerep,belum kebutuhan lain.Tiga korps musik milik pribadi Mayor Jantje adalah Kelompok Tanjidor yang memainkan musik Eropa dengan caranya yang khas,kelompok Musik Cina yang mungkin nantinya berkembang menjadi musik gambang kromong, dan kelompok musik gamelan Jawa.

Untuk menampung tamu-tamu nya terutama dari kalangan keluarga terhormat—Mayor Jantje membangun banyak pavilyun di sekitar bangunan utama vila. Kurang ajarnya, tamu-tamu ini bisa betah berbulan-bulan tinggal di situ, mendapatkan akomodasi, makan dan hiburan gratis tanpa bersusah payah karena budak-budak yang banyak siap melayaninya. Sungguh sebuah perbuatan tak tahu diri dan tak tahu malu! Setiap bulan ribuan gantang beras bisa dihabiskan di tempat ini.  

Tiga puluh orang budak yang mahir memainkan alat musik Eropa ia ambil di antara ratusan budaknya yang lain, membentuk sebuah korps musik. Mereka begitu piawai memainkan repertoar Barat seperti Serenade yang mengahanyutkan bahkan Ave Verum-nya Mozart yang mengoyak-ngoyak hati. Konon musik merekalah cikal bakal kesenian Betawi masa kini bernama Tanjidor.         

Semakin malam, puluhan penari Ronggeng pun siap menggantikan peran korps musik. Dibuka dengan tarian tandak yang dimainkan Sang Mayor berduet dengan seorang penari Ronggeng. Di sinilah Sang Mayor memamerkan kemampuannya dalam menandak. Setelah itu seluruh tamu—khususnya para bujangan—menari bersama para Ronggeng yang pandai memancing perhatian anak-anak muda itu dengan lirikan dan goyang pinggul menggoda. Di penghujung acara, para bujangan yang biasanya mabuk menggandeng Ronggeng pasangannya masuk ke kamarnya masing-masing.  
Pesta usai, Sang Mayor pun kembali dibalut kesepian mendalam. Bukan masalah kebutuhan biologis yang menggelayuti pikirannya, karena dia bisa dengan mudah mendapatkannya. Ia merindukan cinta seperti yang diberikan Davida, kekasih hatinya yang telah tiada. Satu-satunya orang yang mengerti perasaannya adalah mbok Sita, perempuan tua yang telah menemani dengan setia sepanjang hidupnya tak terkecuali di saat maut menjemputnya. Dialah yang sehari-hari mengurusi kebutuhan Sang Mayor termasuk menyediakan budak wanita pilihan untuk teman tidurnya, bila dibutuhkan. Ketika malam semakin larut, bentuk pelariannya yang lain adalah candu. Benda ini yang bisa menghantarnya tidur dalam kedamaian sampai pagi menjelang. Sebentuk pelarian dari kehidupan yang serba hedonis ini ternyata nyaris tak berbeda dari dulu hingga sekarang.




Kisah Mayor Jantje (2)

Written By Abu Rifki on Jumat, 18 Maret 2011 | 02.27

Mayor Jantje, merupakan salah satu Tentara Papango dalam satuan tentara Kompeni / VOC Hindia Belanda. Kesatuan tentara lain yang mengabdi pada Penjajah Belanda adalah Moro yang merupakan orang-orang India-Bengala, Kesatuan Tentara Jawa dan Kesatuan Tentara Ambon,disamping Kesatuan Tentara asli Belanda.

Sedang Kesatuan Papango atau disebut juga orang-orang Mardijkers adalah orang pribumi Filipina yang sudah direkrut di zaman penjajah Spanyol di Filipina,lalu sebagian direkrut penjajah Portugis di Indonesia dan Malaka,Malaysia dan dibaptis menjadi orang Kristen Katolik dan diberi nama Portugis.

Mereka kebanyakan berdiam di wilayah Tugu dan Semper yang merupakan pinggiran Jakarta dan masih rawa-rawa waktu itu.Tentara Papango yang terkenal disiplin dan ganas ini setelah Portugis pergi,lalu direkrut oleh penjajah Belanda,dan setelah Belanda pergi dari Indonesia,mereka mengaku keturunan Portugis dan hingga kini terkenal dengan kesenian Keroncong Tugu.Mayor Jantje adalah salah satu tentara Papango yang bernasib mujur karena mewarisi tanah-tanah yang sangat luas dari ayahnya.

Tanah-tanah luas itu pada mulanya milik Raden Saki, Pangeran ningrat putra Sultan Ageng Banten. ia menjual tanah-tanah itu kepada VOC dengan harga relatif murah.

VOC yang korup menjual kembali tanah itu kepada seorang tuan tanah Belanda,Baron Hohendorff dengan harga agak menguntungkan. Ahli waris Baron tersebut lalu menjual tanah tersebut dengan harga murah kepada Agustijn Michiels,tentara Mardijkers/Papango yang mempunyai jiwa bisnis.

Sebetulnya,Mayor Jantje sudah mewarisi tanah Cileungsi dan Klapanunggal dari ayahnya, Jonathan Michiels,seorang letnan dalam kesatuan tentara Mardijkers/Papango. Tanah itu terlantar, padahal penuh sarang burung walet.

Setelah diwariskan kepada Mayor Jantjelah,maka tanah-tanah itu dibisniskan,baik dikeduk sarang waletnya,maupun disub-kontrakkan kepada pengusaha perkebunan Cina. Setelah kaya,uangnya terus dikembangkan dengan membeli tanah-tanah lain sekitarnya,seperti disebut di atas.

Dan baru setelah kayaraya, maka ia membangun kembali Istana Citeureup yang merupakan warisan dari Raden Saki. Istana itu diperbesar dan diperindah,dengan taman-taman dan danau yang indah,apalagi memang kontur tanah sekitar Bogor sangat hijau indah berlembah dan berbukit,dengan sungai-sungai yang jernih,bagai puisi Ajip Rosidi “Priangan si Jelita”,yang antara lain menyebutkan bahwa Tuhan sedang tersenyum bahagia ketika menciptakan tanah Priangan.

Johan Fabricius cukup piawai menggambarkan suasana Citrap masa lalu. Lewat tulisannya, kita bisa membayangkan lanskap sebuah daerah perkebunan jauh di pelosok Batavia arah ke selatan dengan bukit dan lembah menghijau karena rimbunnya pepohonan. Sungai Citrap di dekat vila yang meliuk-liuk dengan airnya yang jernih mengalir, tempat Mayor Jantje dan tamu-tamunya sekali-kali mandi dan berenang. Jauh di ufuk terlihat bukit Hambalang dengan latar belakang gunung Gede dan gunung-gunung lainnya yang membiru. Tak terbayangkan sebuah tempat seindah itu beberapa ratus tahun kemudian berubah menjadi kawasan industri yang gersang dan panas, di mana daun-daunnya pun telah teselimuti debu industri.

Sesekali waktu Sang Mayor pun turun ke bawah alias berkeliling kampung-kampung yang berada di kawasan tanah yang ia sewakan. Selain untuk tujuan inspeksi, ia juga sering diundang ke hajatan pernikahan. Sebuah fakta yang cukup mengagetkan, bahwa sebagai tuan tanah ia berhak menikmati malam pertama atas sang mempelai perempuan! Sebuah kebiasaan masa lalu yang aneh.
Sepanjang jalan yang dilewati selalu dipenuhi oleh orang-orang kampung, terutama anak kecil yang menunggu Sang mayor membagi-bagikan uang logam kepada mereka. Dan Sang Mayor pun amat menikmati pemandangan ketika tangan-tangan kecil itu berebutan koin-koin yang ia sebarkan dari atas pelana kuda.
Jika,kita melihat foto-foto wisma tjitrap,kita bisa membayangkan,bahwa Istana Citeureup tidak kalah dari Istana Bogor yang milik resmi pemerintah Hindia-Belanda saat itu,dan kini menjadi salah satu Istana Negara Indonesia.

Istana Citerep menjadi terkenal,karena Agustin Michiels yang murah hati dan dermawan,membuka lebar-lebar istananya bagi siapapun,terutama para pejabat Hindia-Belanda,dan menyelenggarakan pesta 24 jam hampir sepanjang masa hidupnya,terutama di hari-hari akhir pekan.

Kehidupan bak opera 1001 malam itu tidak berkeputusan di Istana Citrap,semua tamu gratis makan,minum,pesiar,berjalan-jalan naik kereta kuda,mandi di sungai jernih,atau bermain kartu. Mereka dihibur oleh 3 korps musik milik Mayor Jantje yang bermain bergantian,pagi,siang dan malam.

Kebutuhan beras saja adalah 3280 gantang beras dalam sebulan untuk kehidupan di Istana Citerep,belum kebutuhan lain.Tiga korps musik milik pribadi Mayor Jantje adalah Kelompok Tanjidor yang memainkan musik Eropa dengan caranya yang khas,kelompok Musik Cina yang mungkin nantinya berkembang menjadi musik gambang kromong, dan kelompok musik gamelan Jawa.

Untuk menampung tamu-tamu nya terutama dari kalangan keluarga terhormat—Mayor Jantje membangun banyak pavilyun di sekitar bangunan utama vila. Kurang ajarnya, tamu-tamu ini bisa betah berbulan-bulan tinggal di situ, mendapatkan akomodasi, makan dan hiburan gratis tanpa bersusah payah karena budak-budak yang banyak siap melayaninya. Sungguh sebuah perbuatan tak tahu diri dan tak tahu malu! Setiap bulan ribuan gantang beras bisa dihabiskan di tempat ini.

Tiga puluh orang budak yang mahir memainkan alat musik Eropa ia ambil di antara ratusan budaknya yang lain, membentuk sebuah korps musik. Mereka begitu piawai memainkan repertoar Barat seperti Serenade yang mengahanyutkan bahkan Ave Verum-nya Mozart yang mengoyak-ngoyak hati. Konon musik merekalah cikal bakal kesenian Betawi masa kini bernama Tanjidor.

Semakin malam, puluhan penari Ronggeng pun siap menggantikan peran korps musik. Dibuka dengan tarian tandak yang dimainkan Sang Mayor berduet dengan seorang penari Ronggeng. Di sinilah Sang Mayor memamerkan kemampuannya dalam menandak. Setelah itu seluruh tamu—khususnya para bujangan—menari bersama para Ronggeng yang pandai memancing perhatian anak-anak muda itu dengan lirikan dan goyang pinggul menggoda. Di penghujung acara, para bujangan yang biasanya mabuk menggandeng Ronggeng pasangannya masuk ke kamarnya masing-masing.

Pesta usai, Sang Mayor pun kembali dibalut kesepian mendalam. Bukan masalah kebutuhan biologis yang menggelayuti pikirannya, karena dia bisa dengan mudah mendapatkannya. Ia merindukan cinta seperti yang diberikan Davida, kekasih hatinya yang telah tiada. Satu-satunya orang yang mengerti perasaannya adalah mbok Sita, perempuan tua yang telah menemani dengan setia sepanjang hidupnya tak terkecuali di saat maut menjemputnya. Dialah yang sehari-hari mengurusi kebutuhan Sang Mayor termasuk menyediakan budak wanita pilihan untuk teman tidurnya, bila dibutuhkan. Ketika malam semakin larut, bentuk pelariannya yang lain adalah candu. Benda ini yang bisa menghantarnya tidur dalam kedamaian sampai pagi menjelang. Sebentuk pelarian dari kehidupan yang serba hedonis ini ternyata nyaris tak berbeda dari dulu hingga sekarang.

Namun opera akan menyisakan tragedi pula,seperti semua pesta pasti ada akhirnya.Ketika Mayor Jantje tua,tanah-tanahnya sudah dibagi-bagikan kepada anak-anak maupun anak angkatnya ( anak haramnya )yang banyak,yang menungguinya sampai mati adalah Mbok Sita,pembantu pribuminya yang setia,yang memang sudah menjadi pengasuhnya sejak dia masih kanak-kanak.

Satu-satunya anaknya yang menjenguknya adalah Agraphina,itupun datang pada detik-detik terakhir sebelum malaikat mencabut nyawa bapaknya,didampingi dokter Belanda Bogor,dokter Fritze yang dingin,beku dan sombong. (dari berbagai sumber)

Wisma Tjitrap Galery

[gallery ids="489,490,491,492,493,494,495,496,497,498,499,500,501,511,512,514"]

Kisah Mayor Jantje (1)

Written By Abu Rifki on Jumat, 25 Februari 2011 | 15.54



[gallery link="file"]

Pertengahan abad ke 18 Pangeran Aria Suta Ita dari Banten menghibahkan tanah perkebunan kawasan Citrap (Citeureup) kepada anggota aristokrasi Kolonial. Tetapi kawasan tersebut masih jauh dari sebutan layak huni bagi orang besar Batavia. Istilahnya "tempat jin buang anak." Jadi sekalipun sudah dihibahkan,
masih pada "segen" bermain di kampung nun jauh disano. Baru menjelang akhir abad 18, di bangun villa yang arsitekturnya sesuai dengan alam tropis.
Villa Citrap ini terletak disebuah taman yang elok ditemani patung Mitos Yunani seperti Apollo, Pan, Flora dan, Ceres dan sejauh mata memandang melihat gunung Gede dan Pangrango.

Awal abad ke 19, Langoed Citrap ini dimiliki seorang wanita Angelina Valentijn yang aselinya adalah budak. Perempuan ini sudah 3 kali mengantar ia poenya soeamie ke pemakaman. Maksudnya, ia menikah sampai 3 kali dan suaminya masuk "trash bin" satu persatu. Kaum sihir mengatakan "Itoe prempoean dengan bahoe laweyan." Suami yang terakhir adalah Toewan Maarschalk seorang pengusaha Protestan aliran Kalvin yang etat.

Tahun 1871 Wisma Citrap dibeli oleh seorang Mantan Major Kompeni bernama Augustijn Michiels seharga 91.000 gulden. Mantan Mayor ini memang kaya raya sebab tanah perkebunannya ada di Cileungsi, Klapanunggal, Cibarusa dan masih banyak lagi. Ia juga membeli tanah perkebunan di Cibinong milik Toewan van Riemsdijk. Meneer van
Riemsdijk adalah Gubernur Jendral Militer yang telah banyak berlaga di medan Pengusaha/Dagang.

Toewan Michiels atau lebih terkenal dengan panggilan akrab Majoor Jantje aselinya adalah golongan Mardijker (Mardika=Merdeka). Orang ini aselinya dari Srilangka sebagai budak karena dibawa ke Batavia sebagai tahanan. Banyak diantara mereka menggunakan nama berbau Portugis sekalipun mereka berdarah Tamil-Melayu.

Mayoor Tamil yang bernama kebelandaan ini suka melakukan perjalanan ke Tjitrap (Citeureup). Tidak jelas apakah melakukan Studi Banding atau ingin bertemu dengan pejabat di tempat lain. Setiap bepergian, ia selalu dikawal sepasukan pengawal yang berbaju obar-abir.
Lewat Cibinong, melewati kali Cikeas ia sudah dijemput oleh pejabat dan muspida yang berpakaian semi militer ala Eropa dengan menunggang kuda (kecil). Rakyat amat sukacita menyambut kedatangannya lantaran dari tangannya tiada henti-hentinya menabur uang logam kepada khalayak yang berbaris sepanjang jalan.

Tahun 1833 Majoor Jantje meninggal dunia, bahkan mayor yang temperamental dan urakan ini dikabarkan mati tanpa sanak saudara. Ketika pemakamannya para tiba, prosesi layat diikuti oleh rombongan pemusik profesional yang membawakan lagu-lagu barat.

Mereka membawa alat seperti trombon, klarinet. Selesai pemakaman mereka membentuk group yang bisa dipanggil pesta-pesta kampung. Dari sinilah asal muasalnya groups Tanjidor. Kata "tanjidor" sendiri berasal dari kata "tiende uur" artinya setelah 10 lagu (tien), peralatan musti dibersihkan pakai air bunga. Ada yang bilang kalau
sepuluh lagu, ludah pemusiknya memenuhi trombon sehingga instrumen musik perlu dibersihkan sambil diberi wewangian.

Tahun 1834, satu tahun setelah kematiannya Gunung Gede mengamuk dan merusakkan Wisma Tjitrap. Sejak itu kejayaannya Tjitrap memang berlalu dan tidak banyak dibicarakan orang kecuali oleh pelukis kenamaan Raden Saleh yang pernah mengabadikan Wisma Legendaris tersebut.

Salah satu peninggalannya adalah memadukan seni musik unsur Portugis bercampur Arab dan India, akhirnya jadilah musik berbau musik keroncong.

Sejarah Citeureup

Written By Abu Rifki on Selasa, 01 Februari 2011 | 16.16


Citeureup adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, letaknya yang berada di antara Jakarta dan Bogor memudahkan akses untuk menuju kedua Kota tersebut, belum lagi dengan adanya jalur alternative menuju Cianjur atau Puncak kian memudahkan warga Citeureup untuk menuju tempat-tempat yang disebutkan terakhir tadi.


Siapa nyana Citeureup , kota yang kecil itu banyak meninggalkan sejarah yang tidak sedikit, sebut saja Raden Saleh Pelukis Legendaris yang membawa harum nama indonesia dimata dunia itu diperkirakan pernah tinggal di Citeureup. Beliau katanya merupakan menantu dari Mayor Yance, tuan tanah mantan Mayor kompeni. Berikut cuplikannya yang diambil dari berbagai sumber :

Pertengahan abad ke 18 Pangeran Aria Suta Ita dari Banten menghibahkan tanah perkebunan kawasan Citrap (Citeureup) kepada anggota aristokrasi Kolonial. Tetapi kawasan tersebut masih jauh dari sebutan layak huni bagi orang besar Batavia. Istilahnya "tempat jin buang anak." Jadi sekalipun sudah dihibahkan, masih pada "segen" bermain di kampung nun jauh disano. Baru menjelang akhir abad 18, di bangun villa yang arsitekturnya sesuai dengan alam tropis.
Villa Citrap ini terletak disebuah taman yang elok ditemani patung Mitos Yunani seperti Apollo, Pan, Flora dan, Ceres dan sejauh mata memandang melihat gunung Gede dan Pangrango.

            Awal abad ke 19, Langoed Citrap ini dimiliki seorang wanita Angelina Valentijn yang aselinya adalah budak. Perempuan ini sudah 3 kali mengantar ia poenya soeamie ke pemakaman. Maksudnya, ia menikah sampai 3 kali dan suaminya masuk "trash bin" satu persatu. Kaum sihir mengatakan "Itoe prempoean dengan bahoe laweyan." Suami yang terakhir adalah Toewan Maarschalk seorang pengusaha Protestan aliran Kalvin yang etat.

            Tahun 1871 Wisma Citrap dibeli oleh seorang Mantan Major Kompeni bernama Augustijn Michiels seharga 91.000 gulden. Mantan Mayor ini memang kaya raya sebab tanah perkebunannya ada di Cileungsi, Klapanunggal, Cibarusa dan masih banyak lagi. Ia juga membeli tanah perkebunan di Cibinong milik Toewan van Riemsdijk. Meneer van
Riemsdijk adalah Gubernur Jendral Militer yang telah banyak berlaga di medan Pengusaha/Dagang.

            Toewan Michiels atau lebih terkenal dengan panggilan akrab Majoor Jantje aselinya adalah golongan Mardijker (Mardika=Merdeka). Orang ini aselinya dari Srilangka sebagai budak karena dibawa ke Batavia sebagai tahanan. Banyak diantara mereka menggunakan nama berbau Portugis sekalipun mereka berdarah Tamil-Melayu.

            Mayoor Tamil yang bernama kebelandaan ini suka melakukan perjalanan ke Tjitrap (Citeureup). Tidak jelas apakah melakukan Studi Banding atau ingin bertemu dengan pejabat di tempat lain. Setiap bepergian, ia selalu dikawal sepasukan pengawal yang berbaju obar-abir.
            Lewat Cibinong, melewati kali Cikeas ia sudah dijemput oleh pejabat dan muspida yang berpakaian semi militer ala Eropa dengan menunggang kuda (kecil). Rakyat amat sukacita menyambut kedatangannya lantaran dari tangannya tiada henti-hentinya menabur uang logam kepada khalayak yang berbaris sepanjang jalan.

            Tahun 1833 Majoor Jantje meninggal dunia, bahkan mayor yang temperamental dan urakan ini dikabarkan mati tanpa sanak saudara. Ketika pemakamannya para tiba, prosesi layat diikuti oleh rombongan pemusik profesional yang membawakan lagu-lagu barat.

            Mereka membawa alat seperti trombon, klarinet. Selesai pemakaman mereka membentuk group yang bisa dipanggil pesta-pesta kampung. Dari sinilah asal muasalnya groups Tanjidor. Kata "tanjidor" sendiri berasal dari kata "tiende uur" artinya setelah 10 lagu (tien), peralatan musti dibersihkan pakai air bunga. Ada yang bilang kalau
sepuluh lagu, ludah pemusiknya memenuhi trombon sehingga instrumen musik perlu dibersihkan sambil diberi wewangian.

            Tahun 1834, satu tahun setelah kematiannya Gunung Gede mengamuk dan merusakkan Wisma Tjitrap. Sejak itu kejayaannya Tjitrap memang berlalu dan tidak banyak dibicarakan orang kecuali oleh pelukis kenamaan Raden Saleh yang pernah mengabadikan Wisma Legendaris tersebut.

            Salah satu peninggalannya adalah memadukan seni musik unsur Portugis bercampur Arab dan India, akhirnya jadilah musik berbau musik keroncong.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Portal Citeureup - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger